AS monaco, Leonardo Jardim, Ligue 1,

Monaco Menjual Pemain Utamanya

Setelah sukses dimusim lalu dengan menjuarai Ligue 1 dan melangkah ke liga Champions sampai menuju babak semifinal, kini dimusim ini, mereka tak mampu melanjutkan kesuksesannya, terutama yang jelas saat ini dengan hilangnya kesempatan untuk lolos dari babak kualifikasi baik Liga Champions maupun Liga Eropa. Hal ini dikarenakan mereka takluk saat menghadapi RB Leipzig di pertandingan terakhir mereka kompetisi tersebut pada hari Rabu kemarin. Dan ini adalah harga yang mahal setelah mereka melepaskan beberpa pemain inti mereka.

Pertandingan yang diselenggarakan pada pukul 02.45 WIB di Stade Louis II, mereka kalah 1-4 saat menghadpi klub asal Jerman dan diperkirakan penyebabnya adalah hilangnya sebagian besar pemain starter mereka dimusim lalu karena mereka jual, dengan harga tinggi.

Sebut saja ke Mendy, Silva, Bakayoko, Mbappe (£ 166 juta pada musim panas mendatang) dan Valere Germain yang memecahkan rekor transfer besar namun sayangnya pemain baru yang menggantikan mereka belum mencapai ketinggian seperti yang diharapkan.

Pemainn seperti Terence Kongolo, Youri Tielemans, Stevan Jovetic, Keita Balde dan Adama Diakhaby mungkin akan tampil bagus seiring berjalannya waktu namun harapan semakin meningkat seperti musim lalu. Ketidakmampuan Monaco menggantikan apa yang telah hilang adalah menyakiti mereka.

“Sepak bola bersifat siklis dan kami harus menghargai siklusnya,” kata Jardim pada hari Rabu setelah pertandingan. “Mungkin saat pemain kami sedang berkembang dan seiring klub kami berkembang, kami akan lebih siap menghadapi kompetisi musim depan.”

Modus operandi Monaco sebagian besar mendefinisikan dengan membeli rendah pemain baru dan menjualnya setinggi mungkin jika sudah cemerlang. Selama beberapa musim terakhir ini telah bekerja seperti pesona. Meskipun mereka tidak berada dalam goncangan untuk piala Monaco, namun mereka masih membelokkan jumlah yang sangat besar untuk orang-orang seperti James Rodriguez, Anthony Martial, Geoffrey Kondogbia, Layvin Kurzawa, Aymen Abdennour dan Yannick Carrasco-Ferreira.

Kemenangan musim lalu seharusnya mampu memberi harapan di benak penggemar bahwa Monaco mungkin bisa mempertahankan pemain mereka dan bersaing sejajar dengan klub seperti PSG. Tapi tidak akan pernah seperti itu. PSG mendapat dukungan tak terbatas dari negara Qatar, sementara saat ini Monaco, tidak berada dalam kelompok yang sama lagi.

Kehilangan pemain adalah konsekuensi alami dari cara mereka bekerja. Sangat disayangkan, begitu banyak buahnya yang matang, dipetik pada saat bersamaan. Monaco menghadapi musim dengan penuh pergolakan dan bukan satu kemajuan.

Gagal di Liga Champions dan berada diperingkat kedua dibelakang PSG bukanlah langkah maju dan namun dua langkah mundur.