Domenico Tedesco Schalke 04. Domenico Tedesco, Schalke 04, Bundesliga, liga Jerman,

Domenico Tedesco –
Schalke 04

Domenico Tedesco memang masih sangat muda namun kini ia dipercaya menangani klub seperti Schalke. Memang tak mudah menghadapi tim papan atas di kompetisi tertinggi di Jerman namun untuk masuk sepuluh besar hingga saat ini sepertinya masih cukup diperhitungkan.

Pelatih berusia 32 tahun itu, memulai karirnya pada Juli 2008 dibagian depatemen pemuda VfB Stuttgart sebagai asisten pelatih Thomas Schneider, yang pernah bermain di klub tersebut selama lebih dari satu dekade. Namun pada tahun 2013 ia menjadi kepala pelatih untuk VfB Stuttgart U17,  hingga musim panas 2016. Hal ini dikarenakan Ia ditarik oleh Hoffenheim untuk menjadi kepala pelatih U17 mereka. Iapun lulus ditahun tersebut dari Hennes-Weisweiler-Akademie, (akademi pelatih sepak bola Jerman, sebagai murid terbaik di kelas 2016.

Ia sempat membantu FC Erzgebirge Aue pada tanggal 8 maret 2017, yang berada di zona degradasi 2. Bundesliga, sebagai pelatih. Ia mampu menghasilkan 13 poin dari lima pertandingan, yang dikomandoinya, dan mengakhiri musim dengan berada di peringkat ke 14, selamat dari zona berbahaya. Barulah tiga bulan kemudian, Ia direkrut oleh Schalke.

Ia pun cukup mengesankan membawa raksasa Bundesliga dengan memenagnkan tiga pertandingan dari tujuh laga perdana musim ini dan merintis gaya sepak bola modern yang atraktif.

Ia memiliki segudang  keahlian diantaranya berbicara dengan lima bahasa, dan sebelumnya Ia merupakan seorang engenering berkualitas. Ia juga memiliki gelar Master di bidang Manajemen Inovasi dan pernah bekerja di Mercedes. Tentu sulit untuk melakukan hal tersebut diusianya yang masih muda.

Namun Ia megungkapkan rahasianya dan mengatakan kepada media resmi Bundesliga, “Diperlukan sejumlah disiplin. Terkadang Anda harus kehilangan banyak hal. Jika Anda belajar dan mencoba secara berkelanjutan untuk meraih lencana pelatih sepak bola, maka Anda tidak dapat benar-benar keluar minum setiap Jumat dan Sabtu malam.”

Tentunya dengan prestasi dan riwayat pekerjaannya, akan ada banyak peluang untuknya di dunia bisnis. Namun Ia memilih menjadi pelatih sepak bola dimana kurang aman karena banyak faktor. Ia pun menjawab,  “Hanya karena sepak bola gairah sejati saya dan apa yang paling saya nikmati. Saya selalu ingin bekerja di sepakbola. Tidak pernah benar-benar penting bagiku peran apa itu.

Dan saat ditanya apakah ini merupakan mimpi yang jadi kenyataan, Ia menjawab, “Bisa dibilang begitu. Tapi seperti yang terjadi dengan mimpi begitu mereka menjadi kenyataan , Anda dengan cepat melihat ke depan mimpi apa yang berikutnya.”