Sudah lebih dari dua dekade terakhir, St. Totteringham’s Day dirayakan oleh para pendukung Arsenal. Tahun ini perayaan itu dipastikan tidak akan ada karena giliran Tottenham Hotspur yang berhasil menjadi penguasa London Utara.

Pada akhir pekan lalu, Tottenham menang dengan skor 2 – 0 atas Arsenal berkat gol dari Dele Alli dan Harry Kane. Kemenangan di pekan ke-35 itu membuat The Lily Whites menjaga asa mereka untuk tetap terlibat di persaingan titel juara di Premier League dan dipastikan mengakhiri musim di atas The Gunners.

Tottenham saat ini ada di posisi dua dengan perolehan 77 poin, dengan Arsenal ketinggalan 17 poin di posisi enam. Dengan The Gunners tinggal punya maksimal 15 poin yang dapat diraih di lima laga sisa, The Lilywhites dipastikan tak terkejar.

Posisi finis itulah yang membuat tahun ini tidak akan ada perayaan St. Totteringham’s Day. Sebagai informasi, St. Totteringham’s Day merupakan sebuah hari ledekan dari suporter Arsenal ketika tim kesayangan mereka dipastikan finis di atas Tottenham sang rival di wilayah London Utara.

Faktanya adalah, Tottenham tidak pernah bisa lagi finis di atas Arsenal semenjak terakhir kali mereka melakukannya pada musim 1994/1995 atau 22 tahun yang lalu. Artinya, baru setelah dua dekade lebih, tidak akan ada perayaan St. Totteringham’s Day tahun ini.

Pertandingan tadi merupakan laga Derbi London Utara ke-50 bagi Arsene Wenger. Kemungkinan laga tersebut merupakan derbi terakhirnya bersama Arsenal. Namun yang jelas, pencapaian yang diraih Wenger di laga ke-50 ini sungguh buruk. Bukannya mendapat hasil manis, timnya justru dipermalukan.

“Dalam 20 tahun terakhir, ini baru terjadi sekali. Secara matematis, hal seperti itu wajar. Kami tak gembira dengannya, tapi kami tidak usah membandingkan diri dengan Tottenham melainkan membandingkan diri dengan posisi yang ingin kami tempati,” kata Manajer Arsenal Arsene Wenger di ESPNFC.

Yang menarik untuk disimak adalah sebagian pendukung Tottenham di White Hart Lane terlihat memberikan dukungan untuk Wenger agar bertahan di Arsenal, tentu saja sebagai ungkapan sindiran, apalagi masa depannya kini sedang jadi spekulasi.